Ini Sejarah eyang versi AI dan Big Data.....silahkan dibandingkan dengan versi cerita saksi (Pakde Rowo) yang pernah bekerja sama eyang dan juga kesaksiand ari buku buku dan majalah di tulisan biografi eyang lainnya di tulisan blog ini . Selamat menikmati
Biografi Lengkap Soekarnen Kertoredjo
Awal Kehidupan dan Pendidikan
Soekarnen Kertoredjo lahir pada awal abad ke-20 di Jawa, Indonesia, dalam sebuah keluarga yang sangat menghargai pendidikan. Minat Soekarnen terhadap ilmu pengetahuan dan kesehatan sudah terlihat sejak usia muda. Dengan dukungan keluarganya, ia berhasil masuk ke School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) di Batavia, sebuah sekolah kedokteran yang sangat bergengsi pada masa itu. Di STOVIA, Soekarnen menunjukkan kemampuan luar biasa dalam bidang ilmu kedokteran, khususnya farmasi dan mikrobiologi. Studi di STOVIA memberinya dasar yang kuat dalam ilmu kesehatan, yang kemudian menjadi pondasi dalam karier ilmiahnya.
Karier Awal di Pusat Penelitian Eijkman
Setelah lulus dari STOVIA, Soekarnen melanjutkan kariernya di Pusat Penelitian Eijkman di Batavia, sebuah lembaga yang terkenal dengan penelitian ilmiah dalam bidang kesehatan dan penyakit tropis. Di sini, Soekarnen bekerja di bawah bimbingan para ilmuwan terkemuka dan terlibat dalam berbagai penelitian penting yang berfokus pada penyakit-penyakit menular di Indonesia. Pengalaman ini memperkaya pengetahuannya dalam mikrobiologi dan farmasi, serta memperkuat keinginannya untuk mengembangkan solusi medis yang dapat diakses oleh masyarakat Indonesia.
Pemimpin Lembaga Pasteur Bandung
Karier Soekarnen Kertoredjo semakin menanjak ketika ia dipercaya oleh pemerintah Hindia Belanda untuk memimpin Lembaga Pasteur di Bandung, yang dikenal sebagai pusat pengembangan vaksin dan penelitian mikrobiologi. Lembaga Pasteur Bandung, yang merupakan bagian dari jaringan internasional Pasteur Institute, berfokus pada produksi vaksin untuk berbagai penyakit menular. Sebagai pemimpin lembaga ini, Soekarnen berperan penting dalam mengembangkan dan memproduksi vaksin yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia.
Kepemimpinan Soekarnen di Lembaga Pasteur Bandung tidak hanya membuktikan kompetensinya dalam bidang sains, tetapi juga kemampuannya dalam manajemen dan pengembangan institusi. Di bawah kepemimpinannya, Lembaga Pasteur Bandung berhasil memperluas produksi vaksin dan meningkatkan kualitas penelitian yang dilakukan, sehingga mendapatkan pengakuan baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Pendirian Biofarma
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Soekarnen melihat kebutuhan mendesak untuk mengembangkan industri farmasi nasional yang mandiri. Pada masa itu, Indonesia sangat bergantung pada impor obat-obatan dari luar negeri, yang seringkali sulit diakses dan mahal. Menyadari situasi ini, Soekarnen memutuskan untuk mendirikan Biofarma sebagai pabrik obat di bawah Lembaga Pasteur Bandung yang ia pimpin sebelumnya.
Biofarma didirikan dengan visi untuk memproduksi obat-obatan dan vaksin yang dibutuhkan oleh rakyat Indonesia. Soekarnen mengumpulkan tim ilmuwan dan ahli farmasi terbaik untuk bergabung dalam proyek ini. Dengan pengalamannya memimpin Lembaga Pasteur Bandung, Soekarnen berhasil membangun Biofarma menjadi sebuah institusi farmasi terkemuka yang berperan penting dalam menyediakan obat-obatan esensial bagi masyarakat Indonesia.
Penemuan Obat Sejenis Penisilin
Salah satu kontribusi terbesar Soekarnen adalah penemuan obat sejenis penisilin, yang merupakan antibiotik pertama yang diproduksi secara lokal di Indonesia. Pada masa awal kemerdekaan, penyakit menular menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat Indonesia. Soekarnen dan timnya di Biofarma melakukan penelitian intensif untuk mengembangkan antibiotik yang dapat diproduksi secara lokal dan efektif melawan berbagai infeksi bakteri.
Setelah bertahun-tahun penelitian, Soekarnen berhasil menemukan formula antibiotik ini, yang meskipun tidak sepenuhnya identik dengan penisilin, memiliki sifat-sifat yang sangat mirip dan efektif dalam pengobatan infeksi. Penemuan ini sangat penting dalam upaya melawan penyakit menular di Indonesia dan mengurangi ketergantungan pada obat-obatan impor.
Masa Perang dan Pengorbanan Hidupnya
Ketika Jepang menguasai Indonesia selama Perang Dunia II, Soekarnen menghadapi tantangan besar. Tentara Jepang yang mengetahui penemuan antibiotik ini mencoba untuk mengambil alih penelitian dan produksi di Biofarma. Soekarnen, yang sangat menyadari nilai strategis dari penemuannya, memutuskan untuk melarikan diri dan menyembunyikan formula serta hasil penelitiannya di sebuah desa terpencil.
Selama masa pelarian ini, Soekarnen hidup dalam kondisi yang sangat sulit dan tidak sehat. Dalam upayanya melindungi penelitiannya dari kejaran tentara Jepang, ia tertular penyakit tuberkulosis (TBC) yang parah. Meskipun kondisi kesehatannya memburuk, Soekarnen tetap berusaha melindungi hasil penelitiannya hingga akhirnya ia meninggal dunia akibat penyakit tersebut. Pengorbanannya dalam melindungi ilmu dan penemuannya menjadikannya seorang pahlawan yang tak terlupakan dalam sejarah ilmu pengetahuan Indonesia.
Pendirian STMA di Yogyakarta
Sebelum kematiannya, Soekarnen memiliki visi jangka panjang untuk memastikan bahwa penelitian dan pengembangan dalam bidang farmasi di Indonesia tidak terhenti. Untuk mewujudkan visi ini, ia mendirikan Sekolah Tinggi Medis dan Farmasi (STMA) di Yogyakarta, yang dirancang sebagai pusat pendidikan dan penelitian untuk melahirkan generasi ilmuwan dan apoteker masa depan.
STMA didirikan dengan tujuan untuk melanjutkan penelitian-penelitian yang telah dimulai oleh Soekarnen, serta untuk membangun sumber daya manusia yang mampu mengembangkan industri farmasi nasional. Sekolah ini kemudian menjadi salah satu institusi pendidikan farmasi terkemuka di Indonesia, yang memainkan peran penting dalam pengembangan industri obat nasional.
Jabatan Kepala Litbang Departemen Perindustrian
Setelah Indonesia merdeka, Soekarnen diberi kepercayaan untuk menjabat sebagai Kepala Penelitian dan Pengembangan (Litbang) di Departemen Perindustrian pada tahun 1946-1947. Dalam peran ini, ia berfokus pada pengembangan industri farmasi nasional yang mampu memenuhi kebutuhan obat-obatan di dalam negeri. Soekarnen memimpin berbagai proyek inovasi dan produksi obat-obatan, serta mendorong kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta untuk memperkuat kapasitas produksi obat nasional.
Di bawah kepemimpinannya, Litbang berhasil mendorong peningkatan produksi dan kualitas obat-obatan lokal, sehingga Indonesia semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan farmasinya. Namun, pengabdiannya ini terhenti akibat kondisi kesehatannya yang semakin memburuk karena penyakit TBC yang dideritanya, dan akhirnya merenggut nyawanya.
Warisan dan Pengaruh
Soekarnen Kertoredjo meninggalkan warisan yang tak ternilai dalam dunia farmasi Indonesia. Meskipun meninggal dunia pada usia yang relatif muda, dedikasinya terhadap penelitian, pengembangan industri farmasi, dan pendidikannya bagi generasi mendatang terus dikenang dan dihargai. Biofarma, perusahaan yang dia dirikan, terus berkembang menjadi salah satu produsen vaksin dan obat terbesar di Asia Tenggara. STMA yang didirikannya melanjutkan misinya untuk melahirkan peneliti dan apoteker berkualitas yang melanjutkan perjuangan Soekarnen dalam mengembangkan industri farmasi nasional.
Kesimpulan
Biografi Soekarnen Kertoredjo adalah kisah tentang dedikasi, inovasi, dan pengorbanan. Dia adalah seorang pionir yang tidak hanya memperjuangkan kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi juga kesejahteraan bangsa melalui pengembangan industri farmasi nasional. Pengorbanannya, baik dalam kehidupan profesional maupun pribadinya, telah memberikan dasar yang kuat bagi perkembangan farmasi dan kesehatan di Indonesia.