Pakde adalah satu-satunya saksi
hidup dan bekas staffnya Eyang
Perjalanan liburan anak ku di penghujung tahun 2013 diawali
dengan mengunjungi Pakde Soerowo di kota
kecil tempat beliau menghabiskan masa tuanya dengan tenang di kpeng Magelang.
Udara dingin, bebas polusi dan masyarakat yang ramah membuat Pakde bisa
menghabiskan masa tuanya dengan sukacita ini terpancar dari segarnya penampilan
beliau.
Pertemuan diawali dengan bicara kenan kiri tentang Pakde
beserta aktifitas masa tuanya serta beliau juga menanyakan mamaku dan kakak
adiknya serta saudara lainnya. Pakde ingat bener satu persatu saudara sepupunya
dan pengalamannya bermain-main ketika masih sama-sama kecil dengan Pakde Gandhi
dan Pakde Totit (anak pertama dan ke dua
eyangku). Pakde umurnya sekitar 5 tahun lebih tua dari mereka dan Pakde suka
bermain bersama mereka. Pakde juga ingat kalau dimasa kecil dia hampir meninggal karena jatuh ke jurang dan sempat pingsan cukup lama dan dikira sudah meninggal.
Pertemuan ini diawali dengan kekaguman kami melihat seorang
tua dengan usia 90 tahun tetapi penampilannya tidak kalah dengan orang umur 60
tahunan. Baik dari sisi kekuatan
fisik, kesegaran penampilan dan juga kemampuan mengingat. Anakku Grace bahkan
berkomentar kalau Pakde kami atau Eyangnya ini lebih bisa mengingat lebih baik
dari dia, karena Eyang masih bisa menceritakan pengalamannya ketika berumur
dibawah 5 tahun. Pakde bilang kalau banyak pelajaran cara hidup dari Eyang
kakung yang beliau masih ingat dan jalankan dan mungkin Eyang kakung adalah
figur yang berpengaruh dalam kehidupan beliau. Dari mulai pendapat eyang tentang
hidup dan kehidupan termasuk agama juga pandangan Eyang tentang ilmu
pengetahuan. Pengembangan Ilmu penegtahuan khususnya obat-obatan memang dunia
yang mereka geluti bersama ketika Eyang menjadi wakil pimpinan di Lembaga
Pasteur dan Pakde menjadi salah satu staff kepecayaan beliau.
Eyang mulai
bergelut di Lembaga Pasteur bandung tahun 1944 ketika ditarik dari Lembaga
Eijkman yang dulu berdomisili di Jakarta dekat RSCM. Pada saat itu Lembaga
Pasteur baru diambil Jepang dan Jendral Matusara Kaka sebagai ketuanya
sedangkan wakilnya adalah Dr. Sardjito. Satu tahun kemudian setelah kemerdekaan
maka Lembaga Pasteur dipimpin oleh Dr Sardjito dan Eyang Soekarnen menjadi
wakilnya disamping kesibukan Eyang di Kementrian Kemakmuran. Mungkin di jaman
awal kemerdekaan orang pintar tidak terlalu banyak sehingga rangkap jabatan itu
hal biasa. Di tahun 1946 ketika Eyang sedang mempersiapkan sekolah tehnik menengah dibawah kementrian kemakmuran (sekarang gabungan kementrian perindustrian dan perdagangan) untuk
menyiapkan tenaga trampil dibidang teknologi yang kemudian tahun 1947 resmi
berdiri dengan nama STMA maka Pakde adalah salah satu orang yang sibuk membantu
mengumpulkan siswanya. Jaman dulu beda dengan jaman sekarang ketika sekarang
siswa susah menari sekolah maka jaman dulu sekolah yang susah mencari siswa.
Penelitian Eyang
dilembaga Pasteur Bandung memang titik beratnya bukan sekedar mengembangkan
ilmu pengetahuan dibidang obat-obatan tetapi untuk membuat vaksin dan obat yang
memang dibutuhkan pada saat itu. Pada masa perang dunia kedua ini memang siapa
yang menguasai obat maka mereka bisa memenangkan perang. Pada saat itu penyakit
kecil saja untuk ukuran masa kini bisa menjadi sangat mematikan jika tidak bisa
diobati. Ini alasannya Jepang menugaskan salah satu jendralnya untuk memimpin
Lembaga Pasteur dan mempercepat penelitian dan
penemuan obat dan vaksin yang sangat mereka butuhkan untuk mengobati tentara yang sakit.
Penelitian yang
dilakukan Eyang dan staffnya pada saat itu titik beratnya pada penelitian
pemanfaatan jamur atau pembuatan antibody alami pada hewan dan sangat minim
penggunaan bahan kimia untuk obat-obatan , kalau tidak mau dikatakan tidak ada
sama sekali penggunaan unsur kimia seperti obat saat ini. Mungkin juga karena
saat itu ilmu kimia belum berkembang seperti sekarang dan ilmu biologi lebih
mudah dikembangkan karena bahan bakunya melimpah.
Penelitian yang
utama dilakukan saat itu adalah penelitiaan untuk menemukan antibiotik sebagai
alternatif pemakaian Penicilin yang dikuasai tentara barat. Peneletian zat antibiotik untuk membunuh
bakteri penyebab banyak penyakit ini menitik beratkan pada pemakaian jamur.
Pada saat itu Pakde dan staffnya diminta eyang untuk mengumpulkan aneka jenis
jamur di berbagai pasar di Jakarta dan Bandung. Mereka pagi-pagi menyebarkan
kaca petri atau petrical yang diisi sejenis agar-agar sebagi media tumbuhnya
jamur. Semua kaca petri yang disebar esok harinya diambil dan dimasukan ke
lemari pembiakan (broedenstroof) yang ada di lembaga Pasteur Bandung dan
suhunya dijaga 36 derajat C. Esok harinya dilihat ribuan jamur yang tumbuh di
media agar-agar kaca Petri tersebut dan dipisahkan sesuai jenisnya. Setelah
jamur menjadi satu jenis maka sekarang jamur itu dikembangbiakan kembali dan
jika esok harinya masih ada campuran jamur jenis lain maka pemisahan dilakukan
lagi sampai akhirnya didapat ribuan jenis jamur dan masing-masing media hanya
berisi satu jenis jamur saja. Suatu proses yang memerlukan ketelitian dan
kesabaran tingkat tinggi.
Di sisi lain para
peneliti juga mengembangbiakan aneka bakteri yang banyak menyebabkan penyakit
pada manusia. Berbagai jenis bakteri ini juga dipisahkan sampai hanya menjadi
satu jenis bakteri saja untuk setiap medianya. Kemudian bakteri dan jamur itu
digabung dan dilihat di media mana bakteri itu mati dan jamur bisa membunuhnya
dan di media mana bakteri tetap hidup. Demikianlah proses evaluasi diulang
ulang sampai didapat beberapa jenis jamur yang super untuk membunuh aneka
bakteri dan diberi nama serta dikembang biakan terus.
Jamur yang
terbukti bisa membunuh bakteri mulai dicobakan ke manusia dan biasanya untuk
luka luar terlebih dahulu yang dahulu banyak dialami tentara karena perang
maupun rakyat karena satu dan lain hal. Luka yang sudah bernanah, luka baru maupun yang sudah menjadi seperti
kudis semua dicoba diobati dengan obat berbahan dasar jamur yang sudah terbukti
di lab tadi. Jika hasilnya luar biasa maka obat-obatan itu sudah siap untuk
mengobati luka luar dan mencegah infeksi. Untuk luka dalam proses yang sama
diulangi dan dicoba berkali-kali dengan tujuan Indoensia bisa mempunyai produk
obat antibiotik sendiri. Cita-cita yang sungguh luar biasa.
Bakteri yang saat
itu dianggap cukup menganggu masyarakat adalah Bakteri jenis :
- Cacar
- Colie
- Cocus
- dll
Selain untuk
Penicilin penelitian yang dilakukan eyang dan teamnya di Lembaga Pasteur yang
kemudian sempat pindah ke Klaten mengikuti pemerintahan yang berpeindah ke Jogjakarta
dan tugas eyang juga di kementrian kemakmuran, adalah :
- Penelitian serat pohon Rosela dengan
bantuan bakteri bisa dijadikan benang yang kuat dan tahan air. Ini banyak
dipakai untuk bahan parasut dijaman itu.
- Pemurnian jamur untuk Tempe dan Oncom
untuk menghindari tumbuhnya jamur beracun yang tidak diinginkan dan
membahayakan untuk penduduk yg memamakain.
- Cuka
- Tape
- Mira kelapa
- dll
banyak penelitian
sederhana yang dibuat untuk memberikan asupan gisi murah buat penduduk pada
masa itu dan juga cikal bakal industri militer. Sesuatu yang mengagumkan dibuat
oleh orang pada tahun 1940 an...wow
Selain penelitian
di atas, team Pasteur juga mengembangkan vaksin Cacar dengan bantuan sapi serta
Serum Tetanus dengan bantuan kuda. Ada beda antara Vaksin dan Serum yang Pakde Soerowo share ke kita semua
dimana :
- Vaksin adalah : bakteri yang dibuat
setengah mati sehingga memudahkan badan melawan dan membuat antibody jika
bakteri yang sesungguhnya datang menyerang. Menyiapkan tentara peang di
badan kita untuk siap berperang melawan penyakit yang akan masuk.
- Serum adalah : darah yang diambil
dari binatang donor (jadi bukan penyakitnya) dan kemudian darah itu
dipisahkan antara darah merah dan darah putihnya. Darah putih ini yang
disebut serum dan disuntikan ke tubuh manusia yang terkena penyakit
sebagai bala bantuan tentara untuk melawan penyakit tersebut.
Ini juga
penelitian yang mengagumkan kami karena sudah bisa dilakukan anak bansga di
tahun 1940 an...
Ini sedikit
tambahan apa aktifitas Eyang dan teamnya dimana Pakde Soerowo termasuk
didalamnya pada saat beliau masih hidup dan dipercaya menjadi wakil pimpinan di
Lembaga Pasteur. Sayang Eyang harus meninggal muda di usia 40 an dan ditahun
1949 sehingga banyak cita-cita beliau yang belum terlaksana. Semoga kami anak
cucunya bisa melanjutkan cita-cita beliau untuk membuat Indonesia punya sesuatu
yang bisa dibanggakan dan tidak tergantung dari bangsa lain. Kalau Eyang bisa
membuat bangsa ini tidak terganting dengan Vaksin, Serum , Obat Penicilin dll
dari bangsa lain maka saat ini seharusnya kita juga bisa....Yach kita harus
bisa