Foto Keluarga dari samping

Foto Keluarga dari samping

Minggu, 12 Januari 2014

Ini Sekelumit Cerita Tentang Eyang Soekarnen dari PakDe Soerowo

Pakde adalah satu-satunya saksi hidup dan bekas staffnya Eyang

Perjalanan liburan anak ku di penghujung tahun 2013 diawali dengan mengunjungi Pakde Soerowo di kota kecil tempat beliau menghabiskan masa tuanya dengan tenang di kpeng Magelang. Udara dingin, bebas polusi dan masyarakat yang ramah membuat Pakde bisa menghabiskan masa tuanya dengan sukacita ini terpancar dari segarnya penampilan beliau.

Pertemuan diawali dengan bicara kenan kiri tentang Pakde beserta aktifitas masa tuanya serta beliau juga menanyakan mamaku dan kakak adiknya serta saudara lainnya. Pakde ingat bener satu persatu saudara sepupunya dan pengalamannya bermain-main ketika masih sama-sama kecil dengan Pakde Gandhi dan Pakde Totit (anak  pertama dan ke dua eyangku). Pakde umurnya sekitar 5 tahun lebih tua dari mereka dan Pakde suka bermain bersama mereka. Pakde juga ingat kalau dimasa kecil dia hampir meninggal karena jatuh ke jurang dan sempat pingsan cukup lama dan dikira sudah meninggal.

Pertemuan ini diawali dengan kekaguman kami melihat seorang tua dengan usia 90 tahun tetapi penampilannya tidak kalah dengan orang umur 60 tahunan. Baik dari sisi kekuatan fisik, kesegaran penampilan dan juga kemampuan mengingat. Anakku Grace bahkan berkomentar kalau Pakde kami atau Eyangnya ini lebih bisa mengingat lebih baik dari dia, karena Eyang masih bisa menceritakan pengalamannya ketika berumur dibawah 5 tahun. Pakde bilang kalau banyak pelajaran cara hidup dari Eyang kakung yang beliau masih ingat dan jalankan dan mungkin Eyang kakung adalah figur yang berpengaruh dalam kehidupan beliau. Dari mulai pendapat eyang tentang hidup dan kehidupan termasuk agama juga pandangan Eyang tentang ilmu pengetahuan. Pengembangan Ilmu penegtahuan khususnya obat-obatan memang dunia yang mereka geluti bersama ketika Eyang menjadi wakil pimpinan di Lembaga Pasteur dan Pakde menjadi salah satu staff kepecayaan beliau.

Eyang mulai bergelut di Lembaga Pasteur bandung tahun 1944 ketika ditarik dari Lembaga Eijkman yang dulu berdomisili di Jakarta dekat RSCM. Pada saat itu Lembaga Pasteur baru diambil Jepang dan Jendral Matusara Kaka sebagai ketuanya sedangkan wakilnya adalah Dr. Sardjito. Satu tahun kemudian setelah kemerdekaan maka Lembaga Pasteur dipimpin oleh Dr Sardjito dan Eyang Soekarnen menjadi wakilnya disamping kesibukan Eyang di Kementrian Kemakmuran. Mungkin di jaman awal kemerdekaan orang pintar tidak terlalu banyak sehingga rangkap jabatan itu hal biasa. Di tahun 1946 ketika Eyang sedang mempersiapkan sekolah tehnik menengah dibawah kementrian kemakmuran (sekarang gabungan kementrian perindustrian dan perdagangan) untuk menyiapkan tenaga trampil dibidang teknologi yang kemudian tahun 1947 resmi berdiri dengan nama STMA maka Pakde adalah salah satu orang yang sibuk membantu mengumpulkan siswanya. Jaman dulu beda dengan jaman sekarang ketika sekarang siswa susah menari sekolah maka jaman dulu sekolah yang susah mencari siswa.

Penelitian Eyang dilembaga Pasteur Bandung memang titik beratnya bukan sekedar mengembangkan ilmu pengetahuan dibidang obat-obatan tetapi untuk membuat vaksin dan obat yang memang dibutuhkan pada saat itu. Pada masa perang dunia kedua ini memang siapa yang menguasai obat maka mereka bisa memenangkan perang. Pada saat itu penyakit kecil saja untuk ukuran masa kini bisa menjadi sangat mematikan jika tidak bisa diobati. Ini alasannya Jepang menugaskan salah satu jendralnya untuk memimpin Lembaga Pasteur dan mempercepat penelitian dan  penemuan obat dan vaksin yang sangat mereka butuhkan untuk mengobati tentara yang sakit.

Penelitian yang dilakukan Eyang dan staffnya pada saat itu titik beratnya pada penelitian pemanfaatan jamur atau pembuatan antibody alami pada hewan dan sangat minim penggunaan bahan kimia untuk obat-obatan , kalau tidak mau dikatakan tidak ada sama sekali penggunaan unsur kimia seperti obat saat ini. Mungkin juga karena saat itu ilmu kimia belum berkembang seperti sekarang dan ilmu biologi lebih mudah dikembangkan karena bahan bakunya melimpah.

Penelitian yang utama dilakukan saat itu adalah penelitiaan untuk menemukan antibiotik sebagai alternatif pemakaian Penicilin yang dikuasai tentara barat.  Peneletian zat antibiotik untuk membunuh bakteri penyebab banyak penyakit ini menitik beratkan pada pemakaian jamur. Pada saat itu Pakde dan staffnya diminta eyang untuk mengumpulkan aneka jenis jamur di berbagai pasar di Jakarta dan Bandung. Mereka pagi-pagi menyebarkan kaca petri atau petrical yang diisi sejenis agar-agar sebagi media tumbuhnya jamur. Semua kaca petri yang disebar esok harinya diambil dan dimasukan ke lemari pembiakan (broedenstroof) yang ada di lembaga Pasteur Bandung dan suhunya dijaga 36 derajat C. Esok harinya dilihat ribuan jamur yang tumbuh di media agar-agar kaca Petri tersebut dan dipisahkan sesuai jenisnya. Setelah jamur menjadi satu jenis maka sekarang jamur itu dikembangbiakan kembali dan jika esok harinya masih ada campuran jamur jenis lain maka pemisahan dilakukan lagi sampai akhirnya didapat ribuan jenis jamur dan masing-masing media hanya berisi satu jenis jamur saja. Suatu proses yang memerlukan ketelitian dan kesabaran tingkat tinggi.

Di sisi lain para peneliti juga mengembangbiakan aneka bakteri yang banyak menyebabkan penyakit pada manusia. Berbagai jenis bakteri ini juga dipisahkan sampai hanya menjadi satu jenis bakteri saja untuk setiap medianya. Kemudian bakteri dan jamur itu digabung dan dilihat di media mana bakteri itu mati dan jamur bisa membunuhnya dan di media mana bakteri tetap hidup. Demikianlah proses evaluasi diulang ulang sampai didapat beberapa jenis jamur yang super untuk membunuh aneka bakteri dan diberi nama serta dikembang biakan terus.

Jamur yang terbukti bisa membunuh bakteri mulai dicobakan ke manusia dan biasanya untuk luka luar terlebih dahulu yang dahulu banyak dialami tentara karena perang maupun rakyat karena satu dan lain hal. Luka yang sudah bernanah,  luka baru maupun yang sudah menjadi seperti kudis semua dicoba diobati dengan obat berbahan dasar jamur yang sudah terbukti di lab tadi. Jika hasilnya luar biasa maka obat-obatan itu sudah siap untuk mengobati luka luar dan mencegah infeksi. Untuk luka dalam proses yang sama diulangi dan dicoba berkali-kali dengan tujuan Indoensia bisa mempunyai produk obat antibiotik sendiri. Cita-cita yang sungguh luar biasa.

Bakteri yang saat itu dianggap cukup menganggu masyarakat adalah Bakteri jenis :
  1. Cacar
  2. Colie
  3. Cocus
  4. dll

Selain untuk Penicilin penelitian yang dilakukan eyang dan teamnya di Lembaga Pasteur yang kemudian sempat pindah ke Klaten mengikuti pemerintahan yang berpeindah ke Jogjakarta dan tugas eyang juga di kementrian kemakmuran, adalah :
  1. Penelitian serat pohon Rosela dengan bantuan bakteri bisa dijadikan benang yang kuat dan tahan air. Ini banyak dipakai untuk bahan parasut dijaman itu.
  2. Pemurnian jamur untuk Tempe dan Oncom untuk menghindari tumbuhnya jamur beracun yang tidak diinginkan dan membahayakan untuk penduduk yg memamakain.
  3. Cuka
  4. Tape
  5. Mira kelapa
  6. dll

banyak penelitian sederhana yang dibuat untuk memberikan asupan gisi murah buat penduduk pada masa itu dan juga cikal bakal industri militer. Sesuatu yang mengagumkan dibuat oleh orang pada tahun 1940 an...wow

Selain penelitian di atas, team Pasteur juga mengembangkan vaksin Cacar dengan bantuan sapi serta Serum Tetanus dengan bantuan kuda. Ada beda antara Vaksin dan Serum yang Pakde Soerowo share ke kita semua dimana :
  1. Vaksin adalah : bakteri yang dibuat setengah mati sehingga memudahkan badan melawan dan membuat antibody jika bakteri yang sesungguhnya datang menyerang. Menyiapkan tentara peang di badan kita untuk siap berperang melawan penyakit yang akan masuk.
  2. Serum adalah : darah yang diambil dari binatang donor (jadi bukan penyakitnya) dan kemudian darah itu dipisahkan antara darah merah dan darah putihnya. Darah putih ini yang disebut serum dan disuntikan ke tubuh manusia yang terkena penyakit sebagai bala bantuan tentara untuk melawan penyakit tersebut.

Ini juga penelitian yang mengagumkan kami karena sudah bisa dilakukan anak bansga di tahun 1940 an...

Ini sedikit tambahan apa aktifitas Eyang dan teamnya dimana Pakde Soerowo termasuk didalamnya pada saat beliau masih hidup dan dipercaya menjadi wakil pimpinan di Lembaga Pasteur. Sayang Eyang harus meninggal muda di usia 40 an dan ditahun 1949 sehingga banyak cita-cita beliau yang belum terlaksana. Semoga kami anak cucunya bisa melanjutkan cita-cita beliau untuk membuat Indonesia punya sesuatu yang bisa dibanggakan dan tidak tergantung dari bangsa lain. Kalau Eyang bisa membuat bangsa ini tidak terganting dengan Vaksin, Serum , Obat Penicilin dll dari bangsa lain maka saat ini seharusnya kita juga bisa....Yach kita harus bisa





Tidak ada komentar: