Eyang kakung kami Soekarnen
Kertoredjo memang sudah lama sekali meninggalkan kita semua bahkan ketika orang
tua kami masih sangat kecil. Kami menjadi kurang akrab dengan sosoknya
dan mungkin juga tidak terlalu peduli. Tahun-tahun terakhir ini keluarga besar
Eyang mulai sering mengadakan reuni dan salah satu dampaknya kami menjadi
kembali disadarkan kalau kami tidak terlalu mengenal eyang kakung kami.
Sementara profile Eyang sebagai salah satu anggota keluarga besar perlu kami
kenali dan ini adalah bagian dari program mengumpulkan tulang yang berserak.
Keluarga besar tidak akan lengkap berkumpul jika para cucu, cicit dan generasi
selanjutnya tidak mengenal Eyang mereka sendiri.
Eyangku
dilahirkan pada tanggal 2 September 1903 di Tegalrejo. Eyang menamatkan sekolah nya di MULO dan
melanjutkan ke sekolah guru dan beliau mengambil spesialisasi di dibidang
Biologi dengan major di Jamur dan Bakteri.
Eyang
selanjutnya bekerja di lembaga Eijkman sebagai peneliti dan ini bukanlah
pilihan yang popular pada saat itu. Eyang banyak sekali menghabiskan waktunya
di Lab Eijkman dekat dengan kampus UI Salemba dan anak-anak Eyang menjadi
sangat akrab dengan lingkungan tersebut. MEreka biasa bersepeda di sekitar UI
dan Eijkman ketika Eyang sedang disibukkan dengan anake percobaan di Labnya. Eyang sendiri pada saat itu
tinggal di jalan cimahi Menteng. Jadi relative semua bisa dijangkau
dengan sepeda dari rumah ke klinik Eijkman dan UI Salemba (dulu sekolah
kedokteran jawa).
Eyang punya cita-cita besar membuat
obat yang bisa menyembuhkan banyak penyakit yang namanya sekarang dikenal
dengan nama penisilin. Saat itu Eyang bekejar-kejaran dengan penelitian serupa
yang dilakukan di Amerika dan Eropa. Saat itu penyakit infeksi merupakan
penyakit umum ditemukan di banyak Negara sebagai salah satu akibat dari perang
yang terjadi dimana-mana. Eyang ingin sekali bisa menemukan obat yang bisa
menyembuhkan luka tanpa harus membuat luka itu menghancurkan organ lainnya. Penyakit
infeksi saluran pernafasan atau dikenal sebagai TBC pada saat itu juga sangat
susah diobati dan Eyang terobsesi untuk mencari obat buat penyakit itu tanpa
harus mengisolasi para penderitanya. Eyang ingin bisa menemukan obat yang bisa
membunuh bakteri dan ini obsesinya Eyang.
Seiring
berjalannya waktu dan masuknay Jepang ke Indonesia maka Eyang diminta sama
pihak Jepang untuk meneruskan penelitian yang selama ini dia buat di lembaga
Eijkman menjadi industry obat. Jepang sangat berkepentingan untuk bisa
ditemukannya obat untuk melawan bakteri sebagai pembunuh nomer satu untuk
pasukannya pada saat itu. Untuk itulah Eyang diminta pindah ke Bandung
dan memimpin Pastuer Industri. Tetapi Eyang meminta pada pihak Jepang untuk
hanya menjadi wakil saja sementara untuk ketuanya Pasteur Industri Eyang meminta
Pak Sardjito yang merupakan seniornya di bidang penelitian untuk menjadi
pemimpin. Jepang
menyetujui permintaan ini setelah memanggil dan bertemu Pak Sardjito. Semenjak
inilah perjalanan dua peneliti ini dimulai untuk memimpin Pasteur Industri.
Pada tahun 1945 setelah Indonesia merdeka eyang diminta menjadi
karyawan Kementrian Kemakmuran sebagai Kepal Bagian Pendidikan dari Pusat
Jawatan Perindustrian dan Kerajinan dari Menteri Kemakmuran . Disaat yang
bersamaan di tahuan 1946 Eyang dan Pak Sardjito memindahkan Pasteur Industri ke
Klaten dengan alas an supaya lebih susah diserang Belanda dan lebih dekat
dengan pusat perjuangan kemerdekaan yang waktu itu berpusat di Jogjakarta.
Pada tahun 1947
Eyang mendirikan Sekolah Teknologi Menengah Atas (STMA) dan berkedudukan
di kota Magelang. Beliau yakin bahwa disamping Bangsa Indonesia berjuang secara
fisik untuk menegakkan Kemerdekaan, haruslah pula difikirkan pembangunan Negara
dalam segala lapanga, pandangan beliau telah sampai pada industrialisasi dan
untuk ini maka pendidikan tenaga ahli dalam lapangan Teknologi sangat
diperlukan. Bila dilihat dari data yang ada pada waktu itu perhatian masyarakat
terhadap berdirinya STMA, cukup besar dan menggembirakan. Sebagaimana tertulis
dalam sejarah perjuangan Negara Republik Indonesia, pada bulan Desember 1948
Kolonialis Belanda melancarkan aksinya ke daerah Republik Indonesia sehingga
kota Yogyakarta dan Magelang didudukinya. Selama pendudukan ini STMA terpaksa
tidak melaksanakan kegiatan pendidikan dan pelajaran. Setelah pertengahan tahun
1949 Pemerintah Kolonial Belanda meninggalkan seluruh Daerah Yogyakarta sebagai
hasil perundingan dengan Pemerintah R.I. di Kaliurang, yang sangat terkenal
dinamakan Room Royen Statesmen, maka atas desakan para siswa STMA, kurang lebih
akhir tahun 1949 kegiatan STMA dapat dimulai kembali dengan menempati sebagian
ruangan gedung Kementrian Kemakmuran di Balapan Yogyakarta.
Surat Keputusan Pengukuhan berdirinya STMA adalah seperti
tersebut pada Surat Keputusan Menteri Perekonomian tanggal 20 Juli 1954 Nomor
10606 /M. Alangkah sayangnya sebelum mengetahui perkembangan lebih lanjut, pada
tahun 1949 Bapak Soekarnen Kertoredjo meninggal dunia di kota Magelang. Seluruh
keluarga STMA menganggap Bapak Soekarnen sebagai pendiri dan Bapak STMA.
Untuk selanjutnya cita-cita dari pada Bapak Soekarnen
maka Bapak Soejono Hatmoseputro almarhum yang pada waktu itu sebagai pejabat
Kepala Bagian Pendidikan dari Jawatan Perindustrian Kementrian Kemakmuran
membimbing dan meneruskan tegaknya STMA.
Selain di STMA maka Eyang tetap
setia dengan penelitiannya tentang anti bakteri dan terus berlanjut di Pasteur
Institut bersama Pak Sardjito. Jadi Eyang merangkap jabatan selaian sebagai
Penjabat di Kementrian Kemakmuran, Juga Ketua STMA dan juga wakil dari Pak
Sardjito di Pasteur Institut. Di kemudian hari Pasteur Institut ini akan
berubah namanya menjadi Bio Farma salah satu BUMN dibidang obat-obatan
khususnya vaksin. Keaktifan Eyang dalam terus meneliti bisa dilihat dalam
Pidato Pelantikan Guru besar Prof Sardjito dari Perguruan Tinggi Kedokteran
Cabang Surakarta di tanggal 17 April tahun 1946. Dalam Pidatonya Prof dr
Sardjito mngungkapkan :” ……Diatas tadi djuga
sudah diterangkan tentang hal pembikinan obat-obat seperti jang telah
dikerdjakan oleh Ehrlich dan murid-muridnja. Tentang hal ini kita harus mengakui,
bahwa diantara kita belum ada jang dapat membuatnja. Akan tetapi kitapun tidak
putus asa, karena hasil penjelidikan tuan Fleming diatas boleh kita pandang
sama dengan obat-obat kimia baru seperti cibasol dll. Dan lagi tentang hal ini
dapatlah diumumkan, bahwa di Lembaga Pasteur di Klaten oleh saudara R. Soekarnen sedang diselidiki djamur-djamur jang mengandung zat-zat penghantjurkan
bakteri. Meskipun pekerdjaan ini baru dimulai, usahanja sudah memberi
pengharapan, bahwa penjelidikan saudara R. Soekarnen tidak akan sia-sia
belaka.”
Tentunya merupakan kehormatan besar
ketika Eyang kita dan penelitiannya dibandingkan dengan penelitian dari
Alexandre Fleming yang terkenal sebagai penemu Penicilin alias obat untuk
membunuh bakteri. Di sisi lain kita juga bisa merasakan getaran semangat
nasionalisme yang kuat dimana peneliti local tidak kalah dengan peneliti
international. Ini juga salah satu sebab Belanda sangat ingin menghancurkan
penelitian Eyang yang menyebabkan Pasteur Industri harus pindah ke Klaten dari
Bandung. Di sisi lain Belanda juga ingin dapat hasil penelitian itu untuk
dikembangkan di negaranya oleh peneliti yang mereka punya. Eyang dan Pak
Sardjito tahu betul akal bulus belanda ini makanya mereka tidak mau jika sampai
Pastuer Industrie dengan penelitiannya sampai jatuh ke tangan Belanda.
Eyang sempat ditawari untuk kembali
ke Lembaga Eijkman dan memimpinnya. Eyang bahkan sudah dijemput ke Magelang
oleh utusan Belanda, tetapi Eyang keukeh dengan pendiriannya untuk tidak mau
bekerjasama dengan Belanda. Akibatnya Eyang harus melarikan diri dan bersama
tentara pergerakan keluar dari Jogjakarta, Magelang or Klaten dan tinggal di
desanya bernama Dompelan dekat Magelang.
Eyang
yang banyak meneliti ttg bakteri TBC di pelariannya tanpa disadari juga
menderita sakit TBC dank arena di pelarian tidak ada obat yang memadai
sementara menerima tawaran Belanda untuk memimpin Eijkman di Jakarta sambil
mengobati penyakitnya tidaka da dalam list alternative solusi yang Eyang akan
lakukan maka sebetulnya kematian tinggal menunggu waktu saja. Memang akhirnya
Eyang harus pergi mendahuli kita dengan segala idealism dan patriotismenya di
tahun 1949 tanggal 29 Oktober di desa Dawung Kelurahan Kelopo Kecamatan Tegalrejo Magelang. Eyang dimakamkan di pemakaman keluarga di Potrobangsan Magelang.
Eyang meninggal di usia belum sampai
50 dan baru di usia 46 tahun, dengan meninggalkan satu istri dan 7 orang anak
yang masih perlu biaya untuk pendidikannya. Anak yang terkecil usianya baru 3
tahun dan 3 anaknya yang terkecil baru berusia 3, 4 dan 6 tahun, inilah tiga anak
yang tidak begitu mengenal Papanya. Sementara 4 anak yang lain relative sudah
cukup besar dan berusia 11 tahun sampai 20 tahunan. Dari anak-anak yang besar
ini terutama Anak nomer dua Pakde Rabind cerita tentang Eyang ini kami
dapatkan.
Semoga cerita pendek ini bisa
membuat kami para cucu, cicit dan keturunan Eyang Soekarnen Kertoredjo
mengetahui sejarah tentang Eyang kami yang begitu cinta tanah airnya dan begitu
percaya diri penemuan dari Indonesia bisa mengalahkan penemuan dari Negara
lain. Semoga semangat yang sama tetap hidup di hati kami semua. Selamat jalan Eyangku sayang, kami semua mencitaimu dan bangga dengan pilihan hidupmu. Tuhan memberkati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar