Foto Keluarga dari samping

Foto Keluarga dari samping

Rabu, 16 Oktober 2013

Eyang Soekarnen Kertoredjo, Eyang kami


Eyang kakung kami Soekarnen Kertoredjo memang sudah lama sekali meninggalkan kita semua bahkan ketika orang tua kami masih sangat kecil.  Kami menjadi kurang akrab dengan sosoknya dan mungkin juga tidak terlalu peduli. Tahun-tahun terakhir ini keluarga besar Eyang mulai sering mengadakan reuni dan salah satu dampaknya kami menjadi kembali disadarkan kalau kami tidak terlalu mengenal eyang kakung kami. Sementara profile Eyang sebagai salah satu anggota keluarga besar perlu kami kenali dan ini adalah bagian dari program mengumpulkan tulang yang berserak. Keluarga besar tidak akan lengkap berkumpul jika para cucu, cicit dan generasi selanjutnya tidak mengenal Eyang mereka sendiri.

Eyangku dilahirkan pada tanggal 2 September  1903 di Tegalrejo.  Eyang menamatkan sekolah nya di  MULO dan melanjutkan ke sekolah guru dan beliau mengambil spesialisasi di dibidang Biologi dengan major di Jamur dan Bakteri.

Eyang selanjutnya bekerja di lembaga Eijkman sebagai peneliti dan ini bukanlah pilihan yang popular pada saat itu. Eyang banyak sekali menghabiskan waktunya di Lab Eijkman dekat dengan kampus UI Salemba dan anak-anak Eyang menjadi sangat akrab dengan lingkungan tersebut. MEreka biasa bersepeda di sekitar UI dan Eijkman ketika Eyang sedang disibukkan dengan anake percobaan di Labnya. Eyang sendiri pada saat itu tinggal di jalan cimahi Menteng. Jadi relative semua bisa dijangkau  dengan sepeda dari rumah ke klinik Eijkman dan UI Salemba (dulu sekolah kedokteran jawa).

Eyang punya cita-cita besar membuat obat yang bisa menyembuhkan banyak penyakit yang namanya sekarang dikenal dengan nama penisilin. Saat itu Eyang bekejar-kejaran dengan penelitian serupa yang dilakukan di Amerika dan Eropa. Saat itu penyakit infeksi merupakan penyakit umum ditemukan di banyak Negara sebagai salah satu akibat dari perang yang terjadi dimana-mana. Eyang ingin sekali bisa menemukan obat yang bisa menyembuhkan luka tanpa harus membuat luka itu menghancurkan organ lainnya. Penyakit infeksi saluran pernafasan atau dikenal sebagai TBC pada saat itu juga sangat susah diobati dan Eyang terobsesi untuk mencari obat buat penyakit itu tanpa harus mengisolasi para penderitanya. Eyang ingin bisa menemukan obat yang bisa membunuh bakteri dan ini obsesinya Eyang.

Seiring berjalannya waktu dan masuknay Jepang ke Indonesia maka Eyang diminta sama pihak Jepang untuk meneruskan penelitian yang selama ini dia buat di lembaga Eijkman menjadi industry obat. Jepang sangat berkepentingan untuk bisa ditemukannya obat untuk melawan bakteri sebagai pembunuh nomer satu untuk pasukannya pada saat itu.  Untuk itulah Eyang diminta pindah ke Bandung dan memimpin Pastuer Industri. Tetapi Eyang meminta pada pihak Jepang untuk hanya menjadi wakil saja sementara untuk ketuanya Pasteur Industri Eyang meminta Pak Sardjito yang merupakan seniornya di bidang penelitian untuk menjadi pemimpin. Jepang menyetujui permintaan ini setelah memanggil dan bertemu Pak Sardjito. Semenjak inilah perjalanan dua peneliti ini dimulai untuk memimpin Pasteur Industri.

Pada tahun 1945 setelah Indonesia merdeka eyang diminta menjadi karyawan Kementrian Kemakmuran sebagai Kepal Bagian Pendidikan dari Pusat Jawatan Perindustrian dan Kerajinan dari Menteri Kemakmuran . Disaat yang bersamaan di tahuan 1946 Eyang dan Pak Sardjito memindahkan Pasteur Industri ke Klaten dengan alas an supaya lebih susah diserang Belanda dan lebih dekat dengan pusat perjuangan kemerdekaan yang waktu itu berpusat di Jogjakarta.

Pada tahun 1947  Eyang  mendirikan Sekolah Teknologi Menengah Atas (STMA) dan berkedudukan di kota Magelang. Beliau yakin bahwa disamping Bangsa Indonesia berjuang secara fisik untuk menegakkan Kemerdekaan, haruslah pula difikirkan pembangunan Negara dalam segala lapanga, pandangan beliau telah sampai pada industrialisasi dan untuk ini maka pendidikan tenaga ahli dalam lapangan Teknologi sangat diperlukan. Bila dilihat dari data yang ada pada waktu itu perhatian masyarakat terhadap berdirinya STMA, cukup besar dan menggembirakan. Sebagaimana tertulis dalam sejarah perjuangan Negara Republik Indonesia, pada bulan Desember 1948 Kolonialis Belanda melancarkan aksinya ke daerah Republik Indonesia sehingga kota Yogyakarta dan Magelang didudukinya. Selama pendudukan ini STMA terpaksa tidak melaksanakan kegiatan pendidikan dan pelajaran. Setelah pertengahan tahun 1949 Pemerintah Kolonial Belanda meninggalkan seluruh Daerah Yogyakarta sebagai hasil perundingan dengan Pemerintah R.I. di Kaliurang, yang sangat terkenal dinamakan Room Royen Statesmen, maka atas desakan para siswa STMA, kurang lebih akhir tahun 1949 kegiatan STMA dapat dimulai kembali dengan menempati sebagian ruangan gedung Kementrian Kemakmuran di Balapan Yogyakarta.

Surat Keputusan Pengukuhan berdirinya STMA adalah seperti tersebut pada Surat Keputusan Menteri Perekonomian tanggal 20 Juli 1954 Nomor 10606 /M. Alangkah sayangnya sebelum mengetahui perkembangan lebih lanjut, pada tahun 1949 Bapak Soekarnen Kertoredjo meninggal dunia di kota Magelang. Seluruh keluarga STMA menganggap Bapak Soekarnen sebagai pendiri dan Bapak STMA.
Untuk selanjutnya cita-cita dari pada Bapak Soekarnen maka Bapak Soejono Hatmoseputro almarhum yang pada waktu itu sebagai pejabat Kepala Bagian Pendidikan dari Jawatan Perindustrian Kementrian Kemakmuran membimbing dan meneruskan tegaknya STMA.

Selain di STMA maka Eyang tetap setia dengan penelitiannya tentang anti bakteri dan terus berlanjut di Pasteur Institut bersama Pak Sardjito. Jadi Eyang merangkap jabatan selaian sebagai Penjabat di Kementrian Kemakmuran, Juga Ketua STMA dan juga wakil dari Pak Sardjito di Pasteur Institut. Di kemudian hari Pasteur Institut ini akan berubah namanya menjadi Bio Farma salah satu BUMN dibidang obat-obatan khususnya vaksin. Keaktifan Eyang dalam terus meneliti bisa dilihat dalam Pidato Pelantikan Guru besar Prof Sardjito dari Perguruan Tinggi Kedokteran Cabang Surakarta di tanggal 17 April tahun 1946. Dalam Pidatonya Prof dr Sardjito mngungkapkan :” ……Diatas tadi djuga sudah diterangkan tentang hal pembikinan obat-obat seperti jang telah dikerdjakan oleh Ehrlich dan murid-muridnja. Tentang hal ini kita harus mengakui, bahwa diantara kita belum ada jang dapat membuatnja. Akan tetapi kitapun tidak putus asa, karena hasil penjelidikan tuan Fleming diatas boleh kita pandang sama dengan obat-obat kimia baru seperti cibasol dll. Dan lagi tentang hal ini dapatlah diumumkan, bahwa di Lembaga Pasteur di Klaten  oleh saudara R. Soekarnen sedang diselidiki djamur-djamur jang mengandung zat-zat penghantjurkan bakteri. Meskipun pekerdjaan ini baru dimulai, usahanja sudah memberi pengharapan, bahwa penjelidikan saudara R. Soekarnen tidak akan sia-sia belaka.” 

Tentunya merupakan kehormatan besar ketika Eyang kita dan penelitiannya dibandingkan dengan penelitian dari Alexandre Fleming yang terkenal sebagai penemu Penicilin alias obat untuk membunuh bakteri. Di sisi lain kita juga bisa merasakan getaran semangat nasionalisme yang kuat dimana peneliti local tidak kalah dengan peneliti international. Ini juga salah satu sebab Belanda sangat ingin menghancurkan penelitian Eyang yang menyebabkan Pasteur Industri harus pindah ke Klaten dari Bandung. Di sisi lain Belanda juga ingin dapat hasil penelitian itu untuk dikembangkan di negaranya oleh peneliti yang mereka punya. Eyang dan Pak Sardjito tahu betul akal bulus belanda ini makanya mereka tidak mau jika sampai Pastuer Industrie dengan penelitiannya sampai jatuh ke tangan Belanda.

Eyang sempat ditawari untuk kembali ke Lembaga Eijkman dan memimpinnya. Eyang bahkan sudah dijemput ke Magelang oleh utusan Belanda, tetapi Eyang keukeh dengan pendiriannya untuk tidak mau bekerjasama dengan Belanda. Akibatnya Eyang harus melarikan diri dan bersama tentara pergerakan keluar dari Jogjakarta, Magelang or Klaten dan tinggal di desanya bernama Dompelan dekat Magelang.

Eyang yang banyak meneliti ttg bakteri TBC di pelariannya tanpa disadari juga menderita sakit TBC dank arena di pelarian tidak ada obat yang memadai sementara menerima tawaran Belanda untuk memimpin Eijkman di Jakarta sambil mengobati penyakitnya tidaka da dalam list alternative solusi yang Eyang akan lakukan maka sebetulnya kematian tinggal menunggu waktu saja. Memang akhirnya Eyang harus pergi mendahuli kita dengan segala idealism dan patriotismenya di tahun 1949 tanggal 29 Oktober di desa Dawung Kelurahan Kelopo Kecamatan Tegalrejo  Magelang. Eyang dimakamkan di pemakaman keluarga di Potrobangsan Magelang.

Eyang meninggal di usia belum sampai 50 dan baru di usia 46 tahun, dengan meninggalkan satu istri dan 7 orang anak yang masih perlu biaya untuk pendidikannya. Anak yang terkecil usianya baru 3 tahun dan 3 anaknya yang terkecil baru berusia 3, 4 dan 6 tahun, inilah tiga anak yang tidak begitu mengenal Papanya. Sementara 4 anak yang lain relative sudah cukup besar dan berusia 11 tahun sampai 20 tahunan. Dari anak-anak yang besar ini terutama Anak nomer dua Pakde Rabind cerita tentang Eyang ini kami dapatkan.

Semoga cerita pendek ini bisa membuat kami para cucu, cicit dan keturunan Eyang Soekarnen Kertoredjo mengetahui sejarah tentang Eyang kami yang begitu cinta tanah airnya dan begitu percaya diri penemuan dari Indonesia bisa mengalahkan penemuan dari Negara lain. Semoga semangat yang sama tetap hidup di hati kami semua. Selamat jalan Eyangku sayang, kami semua mencitaimu dan bangga dengan pilihan hidupmu. Tuhan memberkati.

Tidak ada komentar: