Foto Keluarga dari samping

Foto Keluarga dari samping

Rabu, 09 Oktober 2013

Eyang Soekarnen

Tulisan ini dibawah ini memang bukan tulisan Eyang Soekarnen, tetapi Pidato pengukuhan Prof Sardjito sebagai guru besar. Tetapi yang mengagumkan di tulisan teks pidato ini ditulis penelitian eyang ttg bakteri di lembaga Pasteur Klaten. Cerita ini bisa menjadi penjelasan kenapa Eyang pindahd ari Bandung ke Klaten, ternyata karena di klaten Eyang memimpin Lembaga Pasteur disana. Penelitian tentang bakteri dan jamur ini juga dikatakan oleh Prof Sardjito sebagai sesuatu yang tidak akan sia-sia. Terbukti memang tempe sebagai salah satu materi penelitian sekarang sudah menjadi makanan pokok dinegara ini.


Kewadjiban Para Ahli Ilmu Bakteri Dan Ahli
Ilmu Hajat Didalam Djaman Pembangunan
Indonesia Merdeka.

PIDATO – PELANTIKAN, DIUTJAPKAN WAKTU MEMANGKU
DJABATAN GURU BESAR PADA PERGURUAN TINGGI
KEDOKTERAN TJABANG SURAKARTA
TANGGAL 17 APRIL 1946
OLEH
PROF. DR. M. SARDJITO.



Para Tamu Agung jang mulia,
Para Guru Besar jang allamah,
Para Guru dan Doctor jang berilmu,
Tuan2 dan Nona2 Maha Siswa jang terhormat,
dan para hadirin jang memerlukan datang kesini,
Pendengar jang budiman !
M E R D E K A !

Sebagaimana hadirin mengetahui, sudah mendjadi adat kebiasaan, bahwa tiap2 guru baru mengutjapkan sebuah pidato-pelantikan dihadapan medan ramai berkenan dengan ilmu pengetahuari jang diadjarkannja. Maka seharusnjalah kewadjiban ini saja penuhi, dengan pengharapan, mudah-mudahan sumbangan saja dapatlah membcri tjorak kepada Perguruan
Tinggi Kedokteran di Kota Surakarta ini. Scbagai permulaan saja hendak menerangkan, tjorak apakah jang saja harapkan. Sesungguhnja, tjorak jang harus kelihatan dan jang sangat saja harapkan ialah: tjorak kebangsaan, Memang diseluruh dunia Perguruan Tinggi itu adalah tempat untuk timbulnja dan berkembangnja perasaan kebangsaan.

Perasaan kebangsaan jang berkobar-kobar didalam Sekolah Tinggi sangat kentara, tidak sadja di Perantjis, di Inggeris, di Amerika, tctapi terdapat djuga di negeri-negeri-ncgeri kctjil sekalipun. Sebaliknja, djika saja ambil tjomtoh dari Perguruan Tinggi Kedokteran didalam djaman Belanda (G. H. S.), maka tidak seorangpun merasa, bahwa Perguruah itu mempunjai suasana kebangsaan. Hal itu disebabkan oleh beberapa keadaan, antara lain guru-gurunja mempunjai perasaan kebangsaan Belanda; hal ini bertentangan dengan perasaan kebangsaan peladjar-peladjar Indonesia.

Maka dari itu sudah tentu, bahwa Perguruan tersebut tidak mempunjai tjorak kebangsaan Indonesia.  Terlebih-lebih keadaan itu diperkuat oleh suara-suara jang tidak saja setudjui. Suara itu mengatakan, bahwa pada Perguruan Tinggi biasanja diberikan peladjaran pengetahuan jang
bersifat Internasional. Djadi menurut suara itu tadi, Perguruan Tinggi itu dengan sendirinja bertjorak Internasional.

Suara inilah jang sesungguhnja sangat membingungkan orang jang belum tetap imannja, jang belum tahu, bahwa memang ada tempat lain jang melulu tersedia bagi para ahli untuk mengadjarkan ilmu pengetahuannja. Tempat itu memang mempunjai suasana Internasional, misalnja Institut für Tropen Krank heiten di Hamburg dll.

Tentu sadja jang berkewadjiban memberi tjorak pada Perguruan Tinggi itu ialah:
I.                   gurugurunja,
II.                mahasiswa-mahasiswanja.

Untuk mendjelaskan pendirian ini, lebih baik saja mengambil tjontoh dari G.H.S. dulu. Beberapa ahli-penjiasat jaitu guru-guru G.H.S. Prof. De Langen dan Prof. Donath telah menjelidiki hal makanan penduduk didesa Kutawinangun sehari-harinja, pun djuga diperiksa keadaan kesehatan penduduknja. Laporan-laporannja jang terkenal diseluruh Indonesia sebagai,,Gobang Rapport" menjatakan, bahwa waktu itu tiap-tiap orang sehari-harinja hanja makan bahan makanan seharga l gobang (2 ½ cent) sadja. Tetapi terhadap keadaan kesehatan penduduk disitu sama sekali tidak ada kcsimpulan `jang djelas. Apakah sesungguhnja makanan seharga l gobang itu sudah tjukup bagi kcsehatan penduduk di Kutawinangun ?

Sekarang seandainja ahli penjelidik kita jang mempunjai perasaan kebangsaan sedalamdalamnja, melakukan pemeriksaan di Kutawinangun tadi, bagaimanakah kesimpulan mereka tentang hal itu ? Tentulah mereka tidak segan menarik kesimpulan jang menegaskan, bahwa makanan tadi belum mentjukupi, dan seterusnja kesehatan penduduk belum tjukup kuat (masih labiel) untuk mendjalankan kewadjibannja jang berat, jaitu membangunkan tanah airnja.

Djika kesimpulan ini ditjotjokkan dengan keadaan sekarang maka lebih teranglah maksudnja, oleh karena pada saat ini, dari desa-desa seperti Kutawinangun terscbut, berdujundujunlah pemuda2 jang sanggup mcmbangunkan tanah air kita dan membela kemerdekaan Indonesia. Supaja kekuatan djasmani dan rochani ini dapat berlipat ganda, haruslah kesehatannja  dipelihara dengan sebaik-baiknja, supaja mereka djangan sampai mempunjai kesehatan jang  labiel itu.

Tentu sadja pengaruh ahli penjelidik sebagai Prof. De Langen dengan rapportnja kepada para mahasiswa sangat berlainan dari pada pengaruh guru-guru jang mempunjai perasaan kebangsaan.

Djadi pendek kata didalam Perguruan Tinggi itu haruslah terus-menerus diadakan latihan untuk mempergunakan hasil penjelidikan bagi masjarakat kita, supaja dapatlah memberi tjorak  jang scbaik-baiknja kepada Sekolah tadi, Dan bagaimanakah tjoraknja Sekolah Tabib Tingggi (Djakarta Ika Daigaku) didalam djaman Djepang?

Sekolah tersebut djuga tidak mempunjai tjorak kebangsaan, malahan seolah-olah ada kehendak dan dorongan dari atas supaja Sekolah tersebut mempunjai tjorak Djepang.

Disini kita dapat mengetahui bagaimana bedanja perasaan peladjar-peladjar pada waktu djaman Belanda dan djaman Djepang. Didalam djaman politik-djadjahan Belanda kita bangsa Indonesia sudah bertahun-tahun mendapat peratjunan rochani dari sipendjadjah, sehingga umumnja kita sudah tidak merasai lagi, bahwa rochani kita tidak sehat. Maka dari itu meskipun peladjar-peladjar mempunjai perasaan kenasionalan, pada waktu djaman Belanda perasaan ini tidak dapat berkembang sebagaimana mestinja. Setelah Belanda menjerah, maka berhentilah pengaruh  keratjunan tersebut, kitapun lalu bangun dan bangkit menudju kedjaman baru, Meskipun Djepang berdjandji memberikan kemerdekaan kepada Indonesia, tetapi banjaklah tanda-tanda jang menjatakan, bahwa Djepang
sendiripun ingin akan mendjadjah kita. Keadaan jang mengherankan ialah, bahwa keinginan kita untuk membrontak terhadap pendjadjahan Belanda (meskipun bangsa Belanda lebih lemah dari pada bangsa Djepang) tidak begitu keras dan umum seperti dalam djaman pendjadjahan Djepang, pada hal bangsa Djepang waktu itu masih tampak gagah beraninja didalam peperangan.

Melihat peristiwa janga mengherankan ini, teringatlah saja kepada djawab saudara M. H. Thamrin almarhum, tatkala saja bertanja: ,,Adalah saudara mempunjai rantjangan jang djelas, supaja dapat kita merdeka dari pendjadjahan Belanda ?" Djawab Ibeliau: ,,Harus kita tunggu, sampai datangnja kegemparan dunia (wereld-castastrofe)". Tiada antara lama datanglah dengah sekonjong-konjong perang dunia jang terachir ini, jang berakibat  penjerahan Belanda kepada Djepang. Disitu ternjatalah, bahwa djawab saudara Thamrin atas pertanjaan saja tadi benar, sebab pada saat itu kita bangsa Indonesia baik tua maupun muda semuanja jakin, bahwa kita harus berani berdjuang mati-matian untuk mentjapai kemerdekaan
kita, sehingga timbullah tindakan mahasiswa di Djakarta, jang turut mendorong akan tertjapainja ,,Pengumuman Kemerdekaan Republik Indonesia" ‘Disini sudah pada tempatnja bagi saja untuk menjatakan penghargaan saja setinggitingginja terhadap perdjuangan batin jang dilakukan oleh Maha Guru dan Maha Siswa untuk menentang sikap Djepang di Ika Daigaku.

Didalam andjuran untuk memberi tjorak kenasionalan pada Perguruan Tinggi umumnja djanganlah dilupakan, bahwa saja djuga mengetahui kedudukan para tetamu, jaitu: mahasiswa dan guru jang bukan bangsa Indonesia didalam Perguruan Tinggi Kedokteran ini. Di Sekolah Tinggi di Sorbonne (Paris) adaIah ribuan mahasiswa jang bukan bangsa Perantjis. Bagaimana djuga besarnja perasaan kebangsaan bangsa Perantjis, merekapun berbesar hati djuga dapat menerima tetamu mahasiswa jang bukan bangsa Perantjis. Dan sebaliknja para mahasiswa jang
bukan bangsa Perantjispun tidak akan mempengaruhi tjorak kebangsaan Sekolah Tinggi tadi. Sebagai perlengkapan tentu sadja kita memerlukan para guru jang bukan bangsa Indonesia, seperti disini adalah djuga para guru bangsa Tionghoa, jaitu: Dr. Liem Han Tjiu dan Dr. Njo Tjiang Khing di Surakarta dan Dr. jo Kian .Tjay di Klaten. Hal ini sudah umum daIam- dunia pengetahuan; seperti di Sekolah Tinggi di Amerika dan di negeri Belanda adalah guru bangsa Djerman dan sebaliknja; di: Sekolah Tinggi di Negeri Djerman ada pula guru dari bangsa lain.

Didalam djaman pembangunan ini kita sudah semestinja memerlukan beberapa guru Tionghoa untuk memperlengkap susunan Guru. Maka disini sudah pada tempatnja, bila saja sebagai putera Indonesia mengutjapkan banjak terima kasih kepada Guru-guru Tionghoa tersebut
jang djuga turut menjumbangkan tenaga untuk memperbanjak kaum intelek kita.

Berdasar atas tjontoh-tjontoh tadi maka saja menarik kesimpulan sebagai berikut: ;,Perguruan Tinggi harus mempunjai tjorak Nasional dan Instituut-Instituut umumnja harus mempunjai tjorak Internasional". Dan oleh karena Perguruan Tinggi Kedokteran tidak berdiri sendiri sadja, tetapi djuga harus mendjadi tjabang pemupuk kebudajaan tanah air kita, maka
tjorak Sekolah Tinggi itu harus mendjadi tjermin dari kebudajaan Indonesia, hal mana mengandung arti sedalam-dalamnja dan seluas-luasnja. ‘

Hadirin jang budiman !
Berhubung dengan pembitjaraan tadi saja merasa berkewadjiban untuk menguraikan tentang pokok dasar kebudajaan kita didalam saat pembangunan ini, jang harus mendjadi pokok
jaitu :

I. Kenjataan, kebenaran (Waarheid).
II. Keindahan (Schoonheid).

Memang sudah selajaknja, apabila kenjataan, kebenaran (waarheid) dan keindahan (schoonheid) didjadikan sendi kebudajaan. Kenjataan dan keindahan jang menghiasi perguruan tinggi pada umumnja, harus terlihat djuga dalam tjorak Perguruan kita ini.

Maka jakinlah kita, bahwa pesatnja kemadjuan pengetahuan ketabiban itu disebabkan oleh karena kita telah mengetahui senjata-njatanja tentang sebab-sebab pelbagai penjakit, dengan mendekati kenjataan.
Sebagai tjontoh disebutkah disini hasil penjelidikan Pasteur dan Koch tentang sebab sebabnja penjakit; dengan mengetahui sebabnja. penjakit Cholera jang hebat itu dapatlah kita memberantas penjakit tersebut, sehingga sudah beberapa tahun kita tidak mengalami lagi bahaja
penjakit Cholera itu terhadap masjarakat.

Lain tjontoh lagi ialah hasil penjelidikan dokter Jenner, tentang sebab-sebabnja penjakit tjatjar. Kita telah dapat melenjapkan penjakit tersebut dari masjarakat. Hasil penjelidikan jang menegaskan sebab-sebabnja penjakit berupa bakteri dan jang membuktikan sifat-sifatnja menurut pengadjaran Pasteur dan Koch sesungguhnja besar sekali faedahnja bagi masjarakat diseluruh dunia umumnja. Terlebih-lebih berarti hasil penjelidikan itu, tatkala pengetahuan tentang bakteri itu dipraktekkan dengan pertjobaan-pertjobaan di Laboratorium Ehrlich.

Maksudnja pertjobaan itu ialah membuat obat-obat Kimia baru dan mempeladjari chasiatnja jang dipergunakan untuk memusnakan bakteri penjakit.

Hasil pekerdjaan ini sudah terkenal diseluruh dunia jaitu: obat suntik salvarsan, jang dipergunakan untuk memberantas penjakit patek dan syphilis. Selandjutnja pendapat Ehrlich jang dinamakan chemotherapie (pengobatan kimia) dilandjutkan di Laboratoria dibeberapa negeri jang mempunjai ahli-penjelidik jang tjakap mendjalankan pertjobaan-pertjobaan itu. Dengan djalan ini kita sudah mengenal berpuluh-puluh obat-obat kimia baru untuk menjembuhkan beberapa penjakit jang sungguh mandjur, misialnja: dagenan, cibasol, untuk menjembuhkan radang-paru dan penjakit lain, jang disebabkan oleh strepto-coccus; plasmochin, atebrin untuk memberantas penjakit malaria.
Hadirin jang budiman ! ·

Diatas sudah diterangkan, bahwa Ehrlich dan murid-muridnja dapatlah membuat  0batobat baru jang menghantjurkan bakteri2 penjakit. Akan tctapi didalam beberapa tahun jang lalu, ada pula ahli-ahli penjelidik, jaitu Fleming, Chain dan Florey, jang dapat mcnemui djalan lain untuk menghindar pertumbuhan bakteri penjakit itu. Beliau2 tersebut menemui zat-zat jang mempunjai kekuatan untuk manghindar pertumbuhah bakteri penjakit. Zat-zat tersebut ditimbulkan oleh sedjenis djamur, dan zat itu mempunjai chasiat seperti Cibasol. Dan tuan-tuan tadi dengan teman-temannja dapat pula mcmbiakkan djamur itu sebanjak-bahjaknja, sehingga
zat-zat tadi dapat mcngisi beribu-ribu botol, jang dibawa oleh balatentara lnggeris dan Amerika sebagai obat jang amat mudjarab untuk menjembuhkan beberapa penjakit infeksi.

Pendek kata: dengan djalan pcnjelidikan didalam laboratorium dapatlah diketahui senjata-njatanja tentang pelbagai penjebab penjakit dan obat-obatan jang sangat berguna dan berharga untuk masjarakat.

Hadirin jang budiman !
Didalam mengerdjakan pemeriksaan pada umumnja, sipenjelidik tentu terharu melihat keindahan alam jang diselidiki itu, dan disitu timbullah perasaan dan pengakuan, bahwa kekuasaan Tuhan jang mendjadikan alam ini sangatlah besarnja. Dengan sendirinja didalam menjelidiki kenjataan itu, sipenjelidik merasa dirinja ketjil dan bodoh dan pada saat itu timbullah rasa-bakti terhadap jang Maha Kuasa.

Dengan keterangan pendek ini, jakinlah kita, bahwa sendi kebudajaan itu adalah kenjataan dan keindahan jang meliputi perguruan tinggi pada umumnja, jang harus djuga terlihat hendaknja dalam tjorak Perguruan kita ini.

Hadirin jang budiman !
Didalam suasana kemerdekaan dan didalam saat pembangunan Negara Indonesia para tabib djuga harus turut menjumbangkan tenaga dan pikirannja agar supaja seluruh dunia mengakui, bahwa kita mempunjai tenaga dan kebidjaksanaan untuk mempertahankan kemerdekaan Negara kita. Terhadap ilmu saja, jaitu microbiologie, tiap-tiap orang harus mengetahui ukuran dan tingkatan ilmu pengetahuan biologic dilain-lain Negeri. Didalam dunia ilmu pengetahuan biologia, adalah Pasteur, Koch dan Ehrlich mendjadi Maha Gurunja. Sekarang di Indonesia ini, apakah sudah patut kita dinamakan murid dari Maha Guru tersebut ?
Apakah udjiannja dan apakah ukurannja ?

Tak lain dan tak bukan, hanja: hasil pekerdjaan kita sendirilah jang harus dibandingkan dengan hasil pekerdjaan dilain-lain Laboratoria di lain-lain Negeri. Sebagai penerangan perkenankanlah saja sekarang memberi laporan sekedarnja tentang hasil pekerdjaan kita bangsa Indonesia:
I.                   Diperpustakaan dunia sudah tertjantum beberapa nama ahli penjelidik bangsa Indonesia; meskipun belum banjak djumlahnja, tetapi telah memperoleh tempat jang tidak mengetjewakan.
II.                Didalam Kongres lnternasional jang memperbintjangkan penjakit Lepra di kota Cairo dalam tahun 1938 pekerdjaan kita tentang hal pemeriksaan dan pemberantasan penjakit Lepra, jang diadjukan oleh Dr. J.B. Sitanala dan Dr. Kuslan, mendapat perhatian sedemikian besar dariahli-ahli penjakit Lepra, sehingga timbullah suara dari wakil India jang mengatakan: ,,You safe the name of the East". (Saudara memelihara nama Benua Timur).

Hadirin jang budiman !

Ingatlah, bahwa hasil pekerdjaan itu terdapat hanja dalam suasana pendjadjahan, djadi sudah tentu, bilamana hasil pekerdjaan itu tumbuh didalam suasana kemerdekaan, akan lebih besar pula nilainja.

III.             Sekarang saja hendak menindjau tingkatan kita dari sudut lain. Tentang kewadjiban jang harus kita lakukan untuk memberantas penjakit-penjakit infeksi (epidemi) menurut pendapatan lnternasional misalnja: pemberantasan penjakit Cholera, pes, tjatjar dll., kita mempunjai kejakinan, bahwa kitapun dapat pula mengerdjakan pemberantasan itu menurut ukuran lnternasional.

Hadirin jangbudiman !

Diatas tadi telah saja uraikan tentang hal-hal jang sudah dapat kita kerdjakan. Sekarang bagaimanakah pengharapan kita untuk pekerdjaan kita dalam djaman jang akan datang?

Sebagaimana telah diketahui oleh hadirin maka usaha dokter-dokter kesehatan jang berkewadjiban memberantas pelbagai penjakit, sudah menimbulkan hasil jang amat bagus, jaitu memusnakan penjakit Cholera dan penjakit tjatjar dengan djalan suntikan, memakai vaccin bikinan Lembaga Pasteur. ·

Pemberantasan penjakit Pes, typhus dan dysenterie dengan suntikan vaccin buatan kita, sudah pula memberi hasil jang agak memuaskan, walaupun hasilnja tidak sebagus hasil pemberantasan penjakit cholera dan tjatjar.

Diatas tadi djuga sudah diterangkan tentang hal pembikinan obat-obat seperti jang telah dikerdjakan oleh Ehrlich dan murid-muridnja. Tentang hal ini kita harus mengakui, bahwa diantara kita belum ada jang dapat membuatnja. Akan tetapi kitapun tidak putus asa, karena hasil penjelidikan tuan Fleming diatas boleh kita pandang sama dengan obat-obat kimia baru seperti cibasol dll. Dan lagi tentang hal ini dapatlah diumumkan, bahwa di Lembaga Pasteur di Klaten  oleh saudara R. Soekarnen sedang diselidiki djamur-djamur jang mengandung zat-zat
penghantjurkan bakteri. Meskipun pekerdjaan ini baru dimulai, usahanja sudah memberi pengharapan, bahwa penjelidikan saudara R. Soekarnen tidak akan sia-sia belaka. .

Dengan usaha ahli-ahli penjelidikan jang dapat membuat vaccin dan 0bat-0bat baru seperti cibasol,dll., dan djuga zat-zat dari djamur, jang dinamakan penicillin itu, tentulah dapat kita memberantas beberapa penjakit. Kemudian akan tinggallah penjaikit-penjakit jang belum
dapat diobati sebagai jang diharapkan, jaitu tbc., lepra dan beberapa penjakit rakjat; Tentang hal ini kitapun harus menaruh perhatian djuga supaja dapat diselidiki djalan pemberantasannja.

Hadirin jang budiman !

Seperti tersebut dalam uraian saja diatas maka
djelaslah beban dan kewadjiban kita para dokter ahli bakteriologie dan biologic didalam djaman pembangunan Indonesia Merdeka. Dengan singkat saja ulangi lagi maksud saja:

I.                   Perguruan Tinggi Kedokteran di Surakarta ini hendaklah mendapat tjorak kebangsaan.
II.                Mentjari djalan baru untuk memperlengkap alat-alat jang akan dipergunakan untuk memberanrantas penjakit rakjat.

Hadirin jang budiman !

Sebagai penutup saja memadjukan pengharapan kepada para mahasiswa, supaja mereka dikemudian hari mentjurahkan tenaganja untuk mempertinggi deradjat kesehatan Negara Indonesia, jang berdjiwa 70 miliun orang. Bagaimana djuga sukarnja dan beratnja kewadjiban ini, tetapi pekerdjaan tersebut sesungguhnja sangatlah mulia. Maka dari itu saja pertjaja, bahwa para mahasiswa akan mendjalankan kewadjiban itu dengan segala kekuatan tenaganja.

Seperti telah saja uraikan maka dengan djalan ilmu bakteri dan ilmu hajat dapatlah kita menimbulkan hasil jang sangat berharga. Maka pada saat pembangunan ini, saja berdo’a, mogamoga Tuhan jang Maha Bidjaksana melimpahkan rahmatNja sebanjak-banjaknja agar supaja saja dapat memberi peladjaran kepada para mahasiswa, serta dapat membangunkan perhatiannja terhadap sa’aI-so’al tersebut, sehingga giatlah mereka membanting tulang untuk menambah kesedjahteraan dan kemakmuran tanah air kita bersama.

Sekianlah !
Bangunlah Indonesia Raya !

Tetap Merdeka !

Tidak ada komentar: